Hujan pagi di Banjar

Pagi ini aku pengin berangkat ke Kantor pagi-pagi. Sekitar jam 05.30 WIB sudah siap-siap, namun ketika sudah berganti baju dan pamitan sama di dedek turun hujan deras. Padahal malamnya udah di kasih hujan walau tidak deras. Terpaksa aku urungkan niatku berangkat segera, berharap hujan reda, mungkin terang. Alhamdulillah gak lama hujan reda, aku keluar dari rumah dan ku geber Vespa bututku agar cepat sampai di Pertigaan klampok, dan naik bis. Selama di perjalanan suasana di hantui dengan kegelapan akan hujan (mendung) menuju kota pusat Dawet Ayu, Banjarnegara.

Sampai ke Kantor pas hujan deras juga turun, apel yang biasanya di laksanakan tidak di gelar dengan adanya hujan yang deras. Ini pertama aku mengalami Hujan pagi setelah hampir 2 minggu ngantor di Kemenag Banjarnegara.

Menurut aku, sekarang sudah tidak ada pembagian musim seperti pada waktu aku kecil, bahkan berbeda sekali dengan pelajaran pembagian musim yang diterangkan pada waktu SD kelas 4. Fenomena ini memang terjadi karena adanya efek pemanasan global yang sudah mendunia. Dan menurut para ahli dengan adanya efek rumah kaca, pembuangan sampah sembarangan sampai penebangan hutan yang sembarangan menjadikan daratan akan semakin berkurang, ditutupi oleh Air laut yang semakin meninggi. Hal ini juga diperparah dengan erosi yang tiada henti dari pinggiran pantai.

Adanya hujan yang tidak menentu, kapan terang dan kapan hujan membuat orang-orang sekarang extra hati-hati. Kebiasaan yang umum mulai dipersiapkan dengan kondisi yang tiba-tiba dan berubah secara drastis. Kondisi alam juga menjadikan jalanan menjadi rusak, kotor dan mungkin bisa membahayakan.

Antisaipasi kondisi yang ada memang amat di rasakan bagi mereka yang bukan petani. Karena bagi petani hal ini amat menguntungkan. Tanaman menjadi tumbuh dan irigasi menjadi lancar.

Tidak ada yang salah dengan Alam ini, tinggal kita bisa tidak menginterospeksi diri kita. “Adakah alam mulai bosan, dengan tingkah kita” kaya lagu yang didendangkan oleh Ebit G.Ad. Kesalahan tentunya bagi yang tinggal diatasnya, yang dengan diberikan berkah berupa akal untuk membuat, memelihara atau merusak.

Mari kita sering bersyukur dan menjaga bumi ini, karena ini adalah warisan yang akan kita berikan kepada anak cucu kita nantinya. Jika dihabiskan dan di rusak sekarang, mereka akan dapat apa….??? Bagaimana kelangsungan dunia ini ??? akankah menjadi “kiyamat” (kata terakhir dari kerusakan)…

Written by, Nangim.

About Nangim

Ngalap Berkah

Posted on May 5, 2011, in Lingkungan. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: